May 15, 2015 - Kisah Hidup    No Comments

Ironis mahasiswa, antara malas dan cita-cita mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi

Beberapa waktu lalu penulis diminta untuk melakukan uji kompetensi teknis dari pelamar pekerjaan sebagai developer di suatu perusahaan. Berlembar-lembar tumpukan CV yang ada di meja penulis baca satu per satu. Luar biasa sekali mahasiswa sekarang, lebih dari 50 persen pelamar IPKnya mencapai cumlaude. Di zaman penulis dulu, mendapatkan IPK cumlaude adalah luar biasa dan paling hanya 10-15 persen saja dari seluruh mahasiswa.

Ketika membuka CV pun, seorang mahasiswa sepertinya keahliannya banyak sekali untuk seseorang yang baru lulus dari kuliah. Lumayan wow juga meskipun kebanyakan tidak melampirkan pengalaman kerja (namanya juga fresh graduate).

Dan akhirnya hari pengujianpun tiba, berbekal CV yang masuk dan soal ujian yang sudah penulis persiapkan masuklah peserta satu per satu. Hasilnya ? bisa dikatakan 90 persen peserta bahkan tidak mampu memahami kompetensi yang paling dasar dari seorang developer, yaitu bisa coding level dasar. Sungguh sebuah ironi, waktu kuliah yang setidaknya 3 tahun (untuk D3) dan 4 tahun (untuk S1) ditambah IPK yang cumlaude sepertinya hanyalah kemampuan diatas kertas. Padahal menurut pengalaman penulis, dalam 6 bulan belajar pemrograman sudah sangat cukup untuk menguasai dasar dari ilmu pemrograman, eh ini lulus 4 tahun malah ndak bisa apa-apa.

Usut punya usut ternyata kebiasaan copy paste pada banyak mahasiswa sepertinya sampai pada level akut. Jangan salah, penulispun dulu juga melakukan copy paste PR matakuliah. Bedanya, hal tersebut penulis lakukan “hanya jika” memang tidak ada minat pada matakuliah tersebut akan tetapi ternyata matakuliah tersebut sifatnya wajib. Semua matakuliah yang membutuhkan pengasahan otak saya seperti design system, coding, belajar database, belajar teknologi baru, sampai membuat game tiga dimensi dikerjakan sendiri. Lha sekarang ? wong Tugas Akhirnya saja membuat sistem informasi masak coding level dasar aja tidak mampu ?. Dalam hati saya berkata ini dulu yang membuatkan tugas akhirnya siapa.

Itulah ironi banyak mahasiswa, cita-cita setinggi langit tapi kemampuan seujung kuku. Bertahun-tahun kesempatan belajar disia-siakan begitu saja. Begitu waktunya mencari pekerjaan merasa susahnya luar biasa.

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!