May 15, 2015 - Kisah Hidup    No Comments

Ironis mahasiswa, antara malas dan cita-cita mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi

Beberapa waktu lalu penulis diminta untuk melakukan uji kompetensi teknis dari pelamar pekerjaan sebagai developer di suatu perusahaan. Berlembar-lembar tumpukan CV yang ada di meja penulis baca satu per satu. Luar biasa sekali mahasiswa sekarang, lebih dari 50 persen pelamar IPKnya mencapai cumlaude. Di zaman penulis dulu, mendapatkan IPK cumlaude adalah luar biasa dan paling hanya 10-15 persen saja dari seluruh mahasiswa.

Ketika membuka CV pun, seorang mahasiswa sepertinya keahliannya banyak sekali untuk seseorang yang baru lulus dari kuliah. Lumayan wow juga meskipun kebanyakan tidak melampirkan pengalaman kerja (namanya juga fresh graduate).

Dan akhirnya hari pengujianpun tiba, berbekal CV yang masuk dan soal ujian yang sudah penulis persiapkan masuklah peserta satu per satu. Hasilnya ? bisa dikatakan 90 persen peserta bahkan tidak mampu memahami kompetensi yang paling dasar dari seorang developer, yaitu bisa coding level dasar. Sungguh sebuah ironi, waktu kuliah yang setidaknya 3 tahun (untuk D3) dan 4 tahun (untuk S1) ditambah IPK yang cumlaude sepertinya hanyalah kemampuan diatas kertas. Padahal menurut pengalaman penulis, dalam 6 bulan belajar pemrograman sudah sangat cukup untuk menguasai dasar dari ilmu pemrograman, eh ini lulus 4 tahun malah ndak bisa apa-apa.

Usut punya usut ternyata kebiasaan copy paste pada banyak mahasiswa sepertinya sampai pada level akut. Jangan salah, penulispun dulu juga melakukan copy paste PR matakuliah. Bedanya, hal tersebut penulis lakukan “hanya jika” memang tidak ada minat pada matakuliah tersebut akan tetapi ternyata matakuliah tersebut sifatnya wajib. Semua matakuliah yang membutuhkan pengasahan otak saya seperti design system, coding, belajar database, belajar teknologi baru, sampai membuat game tiga dimensi dikerjakan sendiri. Lha sekarang ? wong Tugas Akhirnya saja membuat sistem informasi masak coding level dasar aja tidak mampu ?. Dalam hati saya berkata ini dulu yang membuatkan tugas akhirnya siapa.

Itulah ironi banyak mahasiswa, cita-cita setinggi langit tapi kemampuan seujung kuku. Bertahun-tahun kesempatan belajar disia-siakan begitu saja. Begitu waktunya mencari pekerjaan merasa susahnya luar biasa.

May 13, 2014 - Kisah Hidup    No Comments

maukah anda untuk berhenti merokok ?

Di suatu pagi seorang ibu yang berbelanja sayur di dekat kost menceritakan tentang suaminya yang perokok. Dengan penghasilan suaminya yang pas-pasan dan beliau harus berpikir keras untuk bisa menghemat pengeluaran, kebiasaan suaminya yang merokok seolah beliau menghadapi sebuah tembok yang tebal.

Bayangkan saja, setiap hari suaminya terus merokok sedangkan beliau hanya untuk sesekali sekedar membeli makanan ringan seharga seribu rupiah saja begitu sulitnya. Uang habis, habis, dan habis lagi. Dan celakanya uang banyak dihabiskan untuk merokok. Saya tidak bisa membayangkan jika saja kelas suaminya sakit karena kebiasaan merokoknya itu, dengan apa dia akan membayar uang rumah sakit ?

Cerita lain dipinggir jalan beberapa tukang becak mengeluhkan keadaan ekonominya yang tidak membaik, menceritakan bagaimana sulitnya membiayai sekolah anaknya sambil menghisap rokok yang dibandingkan dengan uang makan akan terhitung mahal. Melihat mereka saya teringat ketika seorang pejabat di kelurahan kebetulan bertemu ibu saya kemudian terlibat sebuah percakapan:

Pejabat : “Anak ibu sekolah di mana ?”

Ibu         : “Kuliah di teknik elektro UGM”

Pejabat tersebut cukup kaget karena keheranan, bagaimana mungkin anak seorang pedagang kaki lima seperti saya yang mungkin bisa dianggap setara dengan para tukang becak itu bisa kuliah di Teknik Elektro UGM. Padahal saat itu, SPP per semester di UGM tidak bisa dipandang lagi sebagai kategori murah. Satu hal yang pasti, ayah saya bukanlah seorang perokok dan Ibu saya bukanlah seorang yang terbiasa untuk menghamburkan uang untuk keperluan yang sia-sia. Dan akhirnya saya berhasil lulus kuliah dengan nilai yang cukup memuaskan.

Saya membayangkan, seandainya para tukang becak itu berhenti merokok kemudian sebagaian atau seluruh uang rokok tersebut ditabung jika saja anaknya kelas mendapat kesempatkan kuliah di Universitas yang memiliki fasilitas yang baik. Jika anaknya sukses, insyallah orang tuanya akan kebagian rezeki juga. Tapi entahlah, sepertinya rokok lebih dicintai daripada memberi kesempatan lebih baik untuk anaknya.

MEROKOK MEMBUNUHMU

Itulah kurang lebih peringatan yang ada pada setiap iklan rokok saat ini. Lebih keras dibanding dengan peringatan sebelumnya “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Tapi bodohnya manusia, pada saat akan mati begitu ketakutan sekali tapi kok ya tidak takut merokok. Bagaimanapun merokok secara logika saya sama sekali tidak masuk akal. Anda harus membayar mahal untuk membunuh diri anda sendiri dengan cara pelan-pelan dan seringnya sangat menyakitkan pada akhirnya karena kerusakan organ anda.

Merokok dapat membunuh orang-orang yang anda cintai

Bukti riset menunjukkan bahwa satu jam saja per hari seseorang yang tidak merokok berada di satu ruangan dengan seorang perokok maka kemungkinan dia terkena kanker paru-paru meningkat megjadi 100 kali lipat. Diperkirakan bahwa di Australia, pada tahun 2004 – 2005, 113 orang dewasa dan 28 bayi meninggal dari penyakit yang disebabkan oleh perokok pasif di rumah. Itu di australia lho yang secara standard kesehatan umum lebih baik dari negara kita. Jika anda mencintai keluarga anda maka berhentilah merokok.

May 12, 2014 - PHP    No Comments

Kelas pada bahasa pemrograman PHP.

Kelas merupakan konsep penting pada saat anda membuat sebuah aplikasi dengan pemrograman PHP pada skala professional. Secara umum, hampir tidak mungkin anda bisa membuat sebuah aplikasi yang baik pada pemrograman PHP tanpa menggunakan kelas sama sekali. Pun seandainya bisa pengerjaaan aplikasi akan menjadi sangat kompleks.

Pendefinisian kelas dalam pemrograman PHP

Kelas pada pemrograman PHP didefiniskan dengan cara berikut :

1
2
3
4
5
6
7
<?php
class nama_kelas   {
    function __construct() {
        // definisikan proses saat kelas diinisasi
        }
}
?>

Fungsi __construct() pada pemrograman dengan PHP5 merupakan fungsi default untuk melakukan inisiasi kelas. Apapun proses yang didefinisikan disana maka pada saat inisiasi kelas proses tersebut akan dieksekusi. Perhatikan kode kelas mobil berikut untuk memahami:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
<?php
class Mobil {
    var $merk = ‘’;
    var $roda = 4;
    function __construct() {
        echo 'Kelas mobil sedang diinisiasi<br>';
        }

        function set_merk($merk) {
            $this->merk = $merk;
            return $this->merk;
        }

        function get_merk() {
            return $this->merk;
        }

        function get_roda() {
           return $this->roda;
        }

}

$ObjectMobil = new Mobil(); // inisiasi kelas
$ObjectMobil->set_merk('Innova');
echo 'Merk Mobil adalah '.$ObjectMobil->get_merk().'<br>';
echo 'Jumlah roda mobil adalah '.$ObjectMobil->get_roda();
?>

Penjelasan untuk kelas mobil sebagai berikut:

  1. Pada saat dilakukan inisiasi kelas yaitu dengan kode $ObjectMobil = new Mobil(), maka browser akan menampilkan text ‘Kelas mobil sedang diinisiasi’ sebagaimana yang didefinisikan pada __construct().
  2. Kemudian merk mobil didefinisikan sebagai ‘Innova’ dengan perintah set_merk(). Perintah ini akan memasukkan text merk ke variable $merk milik internal kelas Mobil. Pada kelas variable akan selalu dipanggil dengan menambahkan $this-> didepan nama variable.
  3. Kode program PHP berikutnya adalah menampilkan nama merk yang sudah dimasukkan dengan menggunakan perintah get_merk().
  4. Selanjutnya jumlah roda ditampilkan dengan perintah get_roda(). Kita tidak perlu memasukkan data roda karena pada definisi variable, jumlah roda sudah terisi.
May 12, 2014 - PHP    No Comments

Array pada bahasa pemrograman PHP

Pada tutorial pengenalan aritmatika sebelumnya, kita sudah dikenalkan mengenai array satu dimensi pada pemrograman PHP. Pada pembahasan khusus mengenai array ini, akan dibahas lebih detail berbagai macam tipe array yang bisa dilakukan pada pemrograman PHP.

Berbagai Cara Mendefinisikan array

Array dapat didefinisikan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan index angka atau menggunakan kata kunci tertentu. Contoh array yang telah lalu seperti kode :

1
2
3
<?php
$array_angka = array (10, 14, 8, 7, 14, 18, 20);
?>

Pada dasarnya adalah definisi array menggunakan index angka dimana karena index tidak didefinisikan secara khusus maka otomatis akan dimulai dengan 0. Dengan demikian jika bisa mengambil data array tersebut dengan menyebutkan indexnya. Perhatikan kode berikut:

1
2
3
4
<?php
$array_angka = array (10, 14, 8, 7, 14, 18, 20);
echo $array_angka[0];
?>

Index juga bisa didefinisikan secara khusus misal:

1
2
3
4
<?php
$array_angka[0] = 10;
$array_angka[1] = 12;
?>

Cara yang kedua adalah dengan menggunakan key khusus misal :

1
2
3
4
5
6
<?php
$array_angka['satu'] = 1;
$array_angka['dua'] = 2;
// cara pemanggilan
echo $array_angka['satu'];
?>

Dimensi pada array

Secara teori array memiliki dimensi yang tidak terbatas dan bisa menggunakan kombinasi antara index angka dan key. Sebagai contoh kita membuat array sebagaimana kode berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
<?php
$data_array = array (
    'buah' => array ('pisang','nanas','pepaya','apel','mangga'),
    'mobil' => array('innova','jazz','fortuner','ferrary')
);
echo '<pre>';
print_r($data_array);
echo '</pre>';
?>

Perhatikan bahwa disana terdapat sebuah data array dengan key buah dan mobil kemudian pada masing-masing data array tersebut terdapat array dengan menggunakan index angka. Jumlah array masing-masing tidak harus sama dan juga tidak harus berisi tipe data yang sama. Misal array buah tidak harus berisi text semua, bisa saja berisi angka, bisa saja berisi text, dan sebagaian lagi berisi array lagi.

Mengakses data array multi dimensi

Untuk melakukan akses langsung data tertentu, yang perlu anda lakukan hanyalah memanggil sesuai dengan key atau indexnya. Contoh :

1
2
3
<?php
echo $data_array['buah'][0]; 
?>

Data yang muncul adalah ‘pisang’ dimana pisang memiliki index ‘buah’ pada dimensi pertama kemudian index ‘0’ pada dimensi kedua.

Menampilkan seluruh data array dengan foreach

Untuk menampilkan data array multi-dimensi sintaks foreach akan dibutuhkan untuk setiap dimensinya, sehingga untuk melakukan akses array dua dimensi sebagaimana contoh sebelumnya maka akan diperlukan dia kali sintaks foreach sebagaimana kode berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
<?php
$data_array = array (
    'buah' => array ('pisang','nanas','pepaya','apel','mangga'),
    'mobil' => array('innova','jazz','fortuner','ferrary')
);
foreach ($data_array as $index_jenis => $jenis) {
    echo 'Data pada jenis '.$index_jenis.':<br>';
    foreach ($jenis as $index_data => $data) {
        echo $data.'</br>';
        }
}
?>
May 11, 2014 - Kenalilah Agamamu    No Comments

Amalan-amalan di Bulan Rajab

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian.

Rajab di Antara Bulan Haram

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Qs. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.

Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 214)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).

Hukum yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab

Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus. Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak diketahui dari satu orang sahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, padahal ada faktor pendorong ketika itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, 210)

Begitu juga dengan menyembelih (berkurban). Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ

“Tidak ada lagi faro’ dan  ‘atiiroh.” (HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. ‘Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied.

‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ‘ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ‘ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Ada sebuah riwayat,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْهَى عَن صِيَامِ رَجَبٍ كُلِّهِ ، لِاَنْ لاَ يَتَّخِذَ عِيْدًا.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied.” (HR. ‘Abdur Rozaq, hanya sampai pada Ibnu ‘Abbas (mauquf). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’, yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sedangkan ‘ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at. Selain hari-hari tadi, jika dijadikan sebagai ‘ied dan perayaan, maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah).” (Latho-if Al Ma’arif, 213)

Hukum lain yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa.

Mengkhususkan Shalat Tertentu dan Shalat Roghoib di bulan Rajab

Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut.

Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama  bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Ibnul Jauziy rahimahullah mengatakan, “Sungguh, orang  yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang hari pasti terasa begitu panas. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib. Padahal dalam shalat Raghaib, bacaannya tasbih begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih, kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan awam begitu urgent. Sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya.” (Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy, 2/125-126)

Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. (Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Ath Thurthusi mengatakan, “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-.” (Al Hawadits wal Bida’, hal. 122. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa 25/290-291290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, “Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.” Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.” Beliau berdalil dengan hadits ‘Aisyah yaitu ‘Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut:

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236)

Perayaan Isro’ Mi’roj

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan, “Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, “Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Catatan penting:

Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan, “Ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan,

“Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan]“.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Imam Ahmad.

Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran.

diambil dari muslim.or.id

May 11, 2014 - PHP    No Comments

Bermain Logika Sederhana – Mengurutkan Kumpulan Data

Setelah sebelumnya kita membahas bagaimana menjumlahkan sekumpulan data pada array yang berisi angka, tutorial kali ini akan menjelaskan bagaimana kita bisa mengurutkan data pada array dengan pemrograman PHP. Untuk mengurutkan data, pemrograman PHP sudah memiliki fungsi built in yang bisa dipanggil kapan saja.

Mengurutkan nilai dari yang terkecil ke terbesar atau sebaliknya

Sintak sort() digunakan untuk mengurutkan array dari nilai yang terkecil ke nilai yang terbesar, sedangkan rsort() digunakan untuk mengurutkan data dari nilai terbesar ke nilai yang terkecil. Perhatikanlah kode program berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
<?php
$array_angka = array (10, 14, 8, 7, 14, 18, 20);
sort($array_angka);
echo 'Berikut urutan dari terkecil ke terbesar :<br>';
foreach ($array_angka as $index_id => $angka) {
    echo $angka.'<br>';
}
?>

Untuk melakukan pengurutan dari yang terbesar ke terkecil, fungsi sort() tinggal diganti dengan rsort().

Mengurutkan array berdasarkan indexnya

Untuk mengurutkan array berdasarkan indexnya, sintaks yang digunakan adalah ksort() untuk pengurutkan dari index terkecil ke yang terbesar dan krsort() untuk pengurutan dari yang terbesar ke yang terkecil. Sebagai contoh perhatikan kode program berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
<?php
$array_angka = array (10, 14, 8, 7, 14, 18, 20);
krsort($array_angka);
echo 'Berikut urutan dari index dari yang terbesar ke yang terkecil :<br>';
foreach ($array_angka as $index_id => $angka) {
    echo 'index : '.$index_id.' : '.$angka.'<br>';
}
?>

Mudah bukan. Silakan berkreasi sendiri menggunakan fungsi-fungsi pengurutan pada pemrograman PHP yang lainnya.

May 10, 2014 - PHP    No Comments

Bermain Logika Sederhana – Menjumlahkan beberapa angka

Setelah sebelumnya kita mempelajari bagaimana operasi aritmatika dilakukan pada pemrograman PHP dengan menggunakan variable sederhana berupa angka tunggal, pada tutorial kali ini kita akan mempelajari bagaimana bermain dengan sekumpulan angka.

Kumpulan data pada pemrograman PHP didefinisikan sebagai array. Untuk saat ini kita akan melakukan operasi untuk array yang paling sederhana yaitu array satu dimensi. Contoh array satu dimensi adalah sebagaimana kode berikut:

1
2
3
<?php
$kumpulan_angka = array (10, 12, 16, 9, 8, 7);
?>

Dari kumpulan angka tersebut kita akan membuat sebuah fungsi dengan PHP untuk menjumlahkan total nilainya. Untuk melakukan hal tersebut maka anda perlu memahami satu tambahan konsep pemrograman yaitu “pengulangan”. Untuk lebih jelasnya perhatikan logika berikut untuk menghitung jumlah total.

  1. Buatlah sebuah wadah (variable) dan isikan nilainya dengan 0.
  2. Untuk setiap nilai pada kumpulan angka tambahkan nilai yang ada pada variable dengan nilai pada kumpulan angka, kemudian simpan hasilnya pada wadah.
  3. Setelah semua data terproses, kirimkan hasil perhitungan.

Pada pemrograman PHP, proses perulangan bisa dilakukan dengan sintak “foreach” seperti contoh berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
<?php
function penjumlahan($data_angka) {
    $hasil = 0;
    foreach ($data_angka as $index_id => $angka) {
    $hasil = $hasil + $angka;
}
return $hasil;
}
$kumpulan_angka = array (10, 12, 16, 9, 8, 7);
$hasil = penjumlahan($kumpulan_angka);
echo $hasil;
?>

Perintah foreach pada pemrograman PHP bisa dijelaskan sebagai berikut :

  • $data_angka, adalah array data masukan.
  • $index_id merupakan variable pembantu untuk mengetahui index suatu array. Sebagai contoh ketika kita mendefinisikan $kumpulan_angka = array (10, 12, 16, 9, 8, 7), maka secara default PHP akan membuat index mulai dari 0. Sehingga nilai $index_id akan terus bertambah urut mulai dari 0 untuk nilai 10, 1 untuk nilai 12 dan seterusnya.
  • $angka merupakan nilai dari array, dengan kata lain 10,12,16, dan seterusnya adalah data yang keluar pada variable angka.
May 10, 2014 - PHP    No Comments

Bermain Logika Sederhana – Aritmatika Sederhana

Salah satu dasar dari bahasa pemrograman PHP adalah melakukan proses aritmatika. Proses paling sederhana meliputi tambah, kurang, kali, bagi, dan bagi sisa (mod). Masing-masing proses diwakili oleh sintaks program khusus yaitu:

  • “+” yang berarti tambah
  • “-“ yang bearti kurang
  • “*” yang berarti kali.
  • “/” yang berarti bagi.
  • “%” yang berarsi bagi sisa.

Menggunakan proses aritmatika pada pemrograman PHP

Cara penggunaan proses aritmatika pada PHP sama saja dengan proses perhitungan saat kita menggunakan kalkulator. Sebagai contoh ketika kita ingin melakukan proses penambahan pada PHP maka kita bisa gunakan kode program sebagai berikut :

1
2
3
4
5
6
7
8
9
<?php
function tambah($a,$b) {
    return $a + $b; 
}
$a = 10;
$b = 12;
$hasil = tambah($a,$b);
echo $hasil;
?>

Demikian juga untuk membuat perkalian misalnya prosesnya sama yaitu dengan kode berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
<?php
function perkalian($a,$b) {
     return $a * $b;    
}
$a = 10;
$b = 12;
$hasil = perkalian ($a,$b);
echo $hasil;
?>

Kombinasi tambah, kurang, kali, dan bagi

Pada kasus nyata, tentu saja hanya proses penambahan atau perkalian yang berdiri sendiri seringkali tidaklah cukup. Untuk menghasilkan sesuatu dibutuhkan sebuah kombinasi operasi aritmatika. Sebagai contoh jika terdapat sebuah input “a” dan “b” kita ingin mendapatkan dan kita ingin mendapatkan nilai untuk operasi : “(a + b) + (a – b) + (axb) + (a/b)” maka jika kita terjemahkan ke kode pemrograman PHP akan menjadi:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
<?php
function kombinasiAritmatika($a,$b) {
    $hasil = ($a + $b) + ($a - $b) + ($a*$b) + ($a/$b);
    Return $hasil;
}
$a = 10;
$b = 12;
$hasil = kombinasiAritmatika ($a,$b);
echo $hasil;
?>

Cukup sederhana bukan. Silakan gunakan imajinasi anda untuk melakukan proses aritmatika yang mungkin dari contoh pemrograman PHP diatas.

May 9, 2014 - PHP    No Comments

Bermain Logika Sederhana – Menukar Isi Gelas

Apa hubungan menukar isi gelas dengan pemrograman PHP ?. Mungkin itu kira-kira pertanyaaan yang ada dipikiran anda. Seperti saya kemukakan pada tulisan yang telah lalu, pada dasarnya pemrograman adalah sebuah seni menggabungkan kode-kode program menjadi sebuah output tertentu. Tentu saja modal dari semua itu adalah “Kreativitas” dan “Logika”.

Bagaimana Menukar Isi Gelas ?

Terdapat dua gelas, yang satu berisi teh (sebut saja gelas A) satunya lagi berisi susu (sebut saja gelas B). Pertanyaannya adalah bagaimana cara menukarkan isi gelas tersebut agar susu berada di gelas A dan teh ada di gelas B ?. Hal tersebut bisa dilakukan dengan langkah berikut:

  1. Ambil satu gelas lagi (sebut saja C).
  2. Pindahkan teh pada gelas A ke gelas C.
  3. Pindahkan susu pada gelas B ke gelas A.
  4. Pindahkan teh pada gelas C ke gelas B.

Mudah bukan ? hanya dengan menggunakan bantuan gelas C permasalahan bisa diatasi. Gelas C merupakan simbol bahwa sering pada pemrograman PHP kita harus berpikir “out of the box” untuk menyelesaikan permasalahan.

Lalu apa implementasinya dalam pemrograman PHP ?

Dalam pemrograman PHP, proses penukaran isi data bisa dilakukan dengan logika yang sama. Kita hanya perlu menerjemahkan logika tersebut ke dalam kode program. Contoh:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
<?php
function tukarData($data_a,$data_b) {
      $data_c = $data_a;
      $data_a = $data_b;
      $data_b = $data_c;
      
      return array($data_a,$data_b);
}

// fungsi bisa dipangil dengan cara berikut
$data_a = 'Teh';
$data_b = 'Susu';

$hasil_tukar = tukarData($data_a,$data_b);
$data_a      = $hasil_tukar[0]; // array default index mulai 0
$data_b      = $hasil_tukar[1];

echo 'Data A:'.$data_a.'<br>';
echo 'Data B:'.$data_b;
?>
May 9, 2014 - Kenalilah Agamamu    No Comments

Sudah benarkah doa makanmu ?

Mayoritas umat muslim pastilah pernah mendengar dan hafal doa makan berikut ini : “Allahumma baariklana fimaa razaqtana waqina ‘adzabannar”. Lisan-lisan kita akan fasih melafalkannya, demikian pula anak-anak kita. Maka kita dahi kita akan mengernyit tanda tak percaya, ternyata hadist ini bersumber kepada hadits yang dhaif.

dari Abdullah bin Amr, dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau biasa mengucapkan apabila didekatkan makanan kepada mereka; “Allahumma baariklana fimaa razaqtana waqina ‘adzabannar”. Kemudian beliau mengucapkan bismillah. Dan ketika telah selesai beliau mengucapkan : “Alhamdulillahiladzi ath’amana wa saqana fa arwana wa kullul ihsan ataana”. (segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada kami dan menunjuki kami. Dan segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami sampai kami puas dan segala kebaikan yang telah datang kepada kami).

hadits ini adalah SANGAT DHAIF. Telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Sunniy di kitabnya Amalula yaum wa lailah (no 450 & 467) dan Imam Ibnu Adiydi kitabnya Al Kaamil (7/427), dari jalan Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah, dari bapaknya, dari kakeknya (yaitu Abdullah bin Amr seperti diatas).

Sanad hadits ini sangat dhaif karena Muhammad bin Az Zu’aizi’ah, telah berkata Imam Bukhori dan Imam Abu Hatim tentangnya,”Mungkarul Hadits jiddan ( Sangat Mungkarul Hadits).” Demikian diterangkan oleh Imam Dzahabi di Mizan-nya (3/548-549) dan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Lasaanul Mizan (5/165-166) dan Imam Al ‘Uqaily dikitabnya Adh Dhu’afaa’ (4/67-68) (pada buku tersebut halaman 354).

Maka jika kita sudah paham bahwa do’a yang sangat popular ini berasal dari sebuah hadits yang derajatnya sangat lemah (sehingga tidak boleh diamalkan), timbullah suatu pertanyaan, bagaimana yang shahih atau yang seharusnya.

Untuk hadist do’a akan makan yang lebih sesuai dengan sunnah (karena dasarnya yang kuat) adalah sebagaimana do’a akan makan yang terdapat dalam kitab do’a Hishnul Muslim, karangan Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani.

Rasulullah bersabda : “Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca: “Bismillah” Apabila lupa pada permulaannya, hendaklah membaca: “Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi” (HR. Abu Dawud 3/347, At-Tirmidzi 4/288, dan lihat kitab Shahih At-Tirmidzi 2/167).

Pages:12»